Peneliti UI Kembangkan Kit ELPLA untuk Pengukuran Vitamin B1 yang Lebih Terjangkau
Artikel Inovasi
M. Iqram (Mu'Iq)

Peneliti UI Kembangkan Kit ELPLA untuk Pengukuran Vitamin B1 yang Lebih Terjangkau

Kebutuhan terhadap pemeriksaan kadar vitamin B1 atau tiamin semakin meningkat seiring perannya yang penting dalam metabolisme tubuh, fungsi saraf, dan pembentukan energi. Defisiensi tiamin dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kelemahan otot, gangguan metabolisme, hingga penyakit neurologis seperti polineuritis. Namun, pemeriksaan kadar tiamin hingga kini masih banyak mengandalkan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang membutuhkan biaya tinggi dan perangkat khusus, sehingga aksesnya masih terbatas di fasilitas kesehatan dasar.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Indonesia menghadirkan inovasi Kit Pengukuran Vitamin B1 (Tiamin) berbasis metode ELPLA (Enzyme Labelled Protein Ligand Assay) dengan Dr. drg. Dwirini Retno Gunarti, M.S. dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai inventor utama. Inovasi ini menawarkan pendekatan alternatif yang lebih ekonomis tanpa mengurangi ketepatan hasil pengukuran.

Berbeda dengan metode ELISA yang menggunakan antibodi, ELPLA memanfaatkan Protein Ikat Tiamin (PIT) sebagai komponen pengikat spesifik. Protein tersebut diperoleh melalui proses isolasi kacang hijau, sumber hayati lokal yang mudah ditemukan dan memiliki biaya produksi lebih rendah. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga membuka peluang penguatan kemandirian teknologi diagnostik dalam negeri.

Kit ELPLA bekerja menggunakan sistem kompetisi, di mana tiamin dalam sampel bersaing dengan konjugat tiamin-avidin untuk berikatan dengan protein pengikat pada mikroplat. Hasil interaksi tersebut menghasilkan perubahan warna yang kemudian dibaca menggunakan spektrofotometer untuk menentukan kadar tiamin secara kuantitatif.

Gambar : Skema Langkah – langkah Kit ELPLA (Enzyme Labelled Protein Ligand Assay)

Dirancang agar dapat digunakan di laboratorium standar, kit ini tidak memerlukan instrumen canggih dalam proses pengujiannya. Berdasarkan hasil penelitian, Kit ELPLA menunjukkan tingkat akurasi dan presisi yang sangat baik, dengan nilai coefficient of variation berada di bawah standar CV Horwitz serta tingkat recovery mencapai 94–98 persen. Pengujian pada sampel serum manusia juga memperlihatkan potensi kuat metode ini sebagai perangkat diagnostik yang siap diterapkan pada pemeriksaan biologis.

Selain memiliki biaya pemeriksaan yang lebih terjangkau, inovasi ini juga dinilai praktis untuk digunakan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas maupun laboratorium pendidikan. Dengan demikian, skrining kadar tiamin berpotensi dilakukan secara lebih luas untuk kebutuhan klinis, studi gizi masyarakat, hingga penelitian kesehatan.

Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, Chairul Hudaya, Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menjadi salah satu bentuk hilirisasi riset yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. “Kit ELPLA tidak hanya menjawab kebutuhan teknologi diagnostik yang lebih terjangkau, tetapi juga menunjukkan kemampuan peneliti UI dalam menghasilkan inovasi yang relevan bagi pelayanan kesehatan masyarakat. Inovasi seperti ini menjadi fondasi penting bagi kemandirian alat kesehatan dalam negeri dan penguatan ekosistem riset berdampak,” ujarnya.

Melalui kombinasi pendekatan ilmiah modern, pemanfaatan sumber daya lokal, dan orientasi pada aksesibilitas layanan kesehatan, Kit ELPLA menjadi terobosan penting dalam pengembangan teknologi biokimia klinik. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat diproduksi secara lebih luas untuk memperkuat kapasitas riset kesehatan nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap teknologi diagnostik yang presisi dan berkelanjutan.