FTUI Kembangkan Bioreaktor Kultur Sel Terintegrasi untuk Tingkatkan Viabilitas Sel
Tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Yudan Whulanza, S.T., M.Sc. berhasil mengembangkan inovasi modul filtrasi hollow fiber terintegrasi dalam sistem bioreaktor kultur sel. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas tantangan yang selama ini dihadapi dalam sistem kultur sel in-vitro konvensional, terutama penurunan viabilitas sel akibat penumpukan partikel biologis dan meningkatnya tekanan geser (shear stress) selama proses kultur berlangsung.
Dalam pengembangannya, tim FTUI merancang modul filtrasi yang berfungsi menyaring partikel biologis berukuran besar, seperti debris seluler, protein agregat, hingga vesikula ekstraseluler sebelum cairan biologis memasuki kompartemen kultur sel. Teknologi ini menggunakan membran hollow fiber berbahan polysulfone dengan konfigurasi serat pendek dan sistem penyusunan bertingkat (stacking), sehingga mampu mengurangi risiko fouling membran dan menjaga performa filtrasi tetap optimal dalam jangka waktu panjang.

Gambar 1:Ilustrasi kompartemen kultur sel.
Keunggulan inovasi ini terletak pada desain modularnya yang kompak, serta terintegrasi langsung dengan sistem bioreaktor tanpa memerlukan perangkat filtrasi tambahan. Selain itu, penggunaan material transparan Polyethylene Terephthalate Glycol (PETG) yang diproduksi melalui teknologi 3D printing memungkinkan peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap aliran dan kondisi filtrasi, sekaligus meningkatkan efisiensi serta kemudahan pemeliharaan sistem.
Dengan diameter modul berkisar 18–22 mm, panjang 8–12 cm, serta tingkat keterisian membran mencapai 88–92%, sistem ini menunjukkan kemampuan tinggi dalam menjaga kualitas medium biologis sekaligus meningkatkan viabilitas dan produktivitas kultur sel.

Gambar 2: Detail penampang kompartemen kultur sel yang sesuai dengan invensi saat ini.
Prof. Dr. Yudan Whulanza menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan teknologi kultur sel yang lebih aplikatif. “Desain bioreaktor ini kami kembangkan agar dapat digunakan tidak hanya di laboratorium riset, tetapi juga dalam proses produksi berbasis kultur sel dengan efisiensi tinggi,” ujarnya.
Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, Chairul Hudaya, Ph.D., turut mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, inovasi ini menjadi bukti sinergi antara riset dan penerapan teknologi dalam menjawab kebutuhan dunia biomedis sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan solusi berdampak.
Pengembangan sistem bioreaktor terintegrasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan lebih luas untuk mendukung riset preklinis, produksi biomaterial, hingga pengembangan terapi berbasis sel di masa depan. Inovasi tersebut sekaligus mempertegas kontribusi FTUI dalam menghadirkan teknologi biomedis yang mendukung kemajuan rekayasa jaringan dan kesehatan di Indonesia.
Artikel Sebelumnya
Implan Gigi Antibakteri Berbasis Titanium Dikembangkan untuk...Artikel Selanjutnya
Peneliti UI Kembangkan Kit ELPLA untuk Pengukuran Vitamin B1...