Implan Gigi Antibakteri Berbasis Titanium Dikembangkan untuk Tingkatkan Keberhasilan Perawatan
Artikel Inovasi
• M. Iqram (Mu'Iq)

Implan Gigi Antibakteri Berbasis Titanium Dikembangkan untuk Tingkatkan Keberhasilan Perawatan

Perkembangan teknologi implan gigi terus mengalami kemajuan seiring meningkatnya kebutuhan rehabilitasi gigi yang hilang dan tuntutan terhadap keberhasilan prosedur jangka panjang. Namun, penggunaan implan masih menghadapi tantangan berupa risiko peri-implantitis, yaitu peradangan jaringan di sekitar implan akibat terbentuknya biofilm bakteri pada permukaan material. Kondisi tersebut dapat mengganggu stabilitas implan hingga menurunkan keberhasilan perawatan.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Fakultas Teknik yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Siamet, M.T., Khalil Gibran, S.Si., M.T., dan Ika Maria Ulfah, S.T., M., mengembangkan inovasi material implan gigi berbasis paduan titanium dengan pendekatan modifikasi permukaan TiOâ‚‚ nanotubes yang diperkaya silika serta dopan logam perak (Ag). Inovasi ini dirancang untuk menggabungkan kemampuan antibakteri dan peningkatan interaksi biologis antara implan dengan jaringan tulang.

Gambar 1 : data hasil karakterisasi FESEM material implan gigi

Titanium selama ini dikenal sebagai material yang stabil, kuat, dan aman untuk aplikasi medis. Melalui teknologi TiOâ‚‚ nanotubes, permukaan material dimodifikasi agar memiliki karakteristik biologis yang lebih baik dibandingkan logam konvensional. Penambahan silika berperan meningkatkan sifat keterbasahan permukaan serta mendukung pelekatan dan pertumbuhan sel, sedangkan logam perak ditambahkan untuk memberikan efek antibakteri guna menekan pembentukan biofilm pada area implan.

Gambar 2: Ilustrasi  Implan Gigi Antibakteri Berbasis Titanium Termodifikasi TiOâ‚‚ Nanotubes dengan Silika dan Logam Perak

Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, Chairul Hudaya, Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Inovasi tidak berhenti pada pengembangan konsep ilmiah, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan di dunia nyata. Pengembangan material implan antibakteri ini menunjukkan bagaimana riset, teknologi material, dan orientasi hilirisasi dapat bekerja bersama untuk menghadirkan solusi yang lebih aman dan bermanfaat bagi pasien,” ujarnya.

Melalui kombinasi sifat antibakteri dan kemampuan mendukung proses osseointegrasi, inovasi ini berpotensi meningkatkan keberhasilan prosedur implantasi gigi sekaligus mengurangi risiko komplikasi pascaoperasi. Ke depan, pendekatan modifikasi permukaan berbasis nanotubes juga membuka peluang pengembangan biomaterial lain yang lebih adaptif, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan layanan kesehatan masa depan.