Kapsul Herbal Sambiloto UI Berpotensi Lindungi Jantung Pasien Kemoterapi
Kemoterapi masih menjadi terapi utama dalam penanganan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara. Namun, penggunaan obat kemoterapi seperti doksorubisin diketahui dapat menimbulkan efek samping serius berupa kerusakan jantung atau kardiotoksisitas. Menjawab tantangan tersebut, Prof. Dr. rer.physiol. dr. Septelia Inawati Wanandi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) bersama tim peneliti mengembangkan inovasi kapsul ekstrak kering sambiloto terstandar sebagai terapi tambahan untuk melindungi fungsi jantung pasien kanker.
Inovasi ini memanfaatkan tanaman sambiloto (Andrographis paniculata L.) yang telah lama dikenal sebagai tanaman obat tradisional Indonesia. Kandungan utama berupa andrografolida memiliki aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, dan antikanker yang berpotensi mendukung terapi kemoterapi secara lebih aman.

Gambar 1: Produk ekstrak kering Herba Sambiloto
Menjelaskan latar belakang pengembangan inovasi ini, Prof. Dr. rer. physiol dr. Septelia Inawati Wanandi menyampaikan, “Doksorubisin merupakan obat kemoterapi yang sangat efektif, tetapi risiko kerusakan jantung menjadi tantangan besar dalam praktik klinis. Melalui riset ini, kami berupaya menghadirkan terapi pendamping berbasis herbal Indonesia yang aman, terstandar, dan memiliki bukti ilmiah kuat untuk melindungi fungsi jantung tanpa mengganggu efektivitas kemoterapi,” jelasnya.
Kapsul ekstrak sambiloto ini diformulasikan dengan kandungan andrografolida terstandar sebesar 4–6 persen dan diproduksi sesuai prinsip Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto mampu menurunkan penanda kerusakan jantung serta memperbaiki struktur jaringan jantung pada model hewan yang diberikan doksorubisin.

Gambar 2: Produk jadi kapsul ekstrak kering Herba Sambiloto
Menambahkan hal tersebut, Chairul Hudaya, Ph.D., Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, menegaskan bahwa inovasi ini mencerminkan arah strategis UI dalam mengembangkan riset yang berdampak. “Inovasi kapsul ekstrak kering sambiloto terstandar ini menunjukkan bagaimana riset unggulan Fakultas Kedokteran UI dapat ditransformasikan menjadi solusi nyata bagi permasalahan kesehatan. UI terus mendorong hilirisasi riset agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain efektif, inovasi ini juga telah melalui uji toksisitas akut dan dinyatakan aman dengan kategori “praktis tidak toksik”. Ke depan, kapsul ekstrak kering sambiloto berpotensi menjadi terapi pendamping kemoterapi yang lebih terjangkau, aman, dan berbasis kekayaan hayati Indonesia.
Artikel Sebelumnya
NIVO AI, Inovasi Berbasis AI untuk Dampingi Perjalanan Berhe...Artikel Selanjutnya
Kulit Artifisial Berbasis Alginat–Kitosan UI, Inovasi Biomat...