Kulit Artifisial Berbasis Alginat–Kitosan UI, Inovasi Biomaterial untuk Rekayasa Jaringan Kulit
Perkembangan rekayasa jaringan membuka peluang baru dalam pengembangan pengganti kulit manusia yang aman dan efektif. Menjawab tantangan keterbatasan donor kulit dan kebutuhan model kulit buatan yang lebih representatif, Retno Wahyu Nurhayati, S.TP., M.Eng., Ph.D.Eng. dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengembangkan inovasi perancah alginat–kitosan sebagai kulit artifisial berbasis biomaterial alami.
Inovasi ini dikembangkan melalui pendekatan kultur tiga dimensi (3D) yang mampu meniru struktur kulit manusia secara lebih alami dibandingkan kultur dua dimensi konvensional. Kulit artifisial yang dihasilkan terdiri atas lapisan epidermis, dermis, serta matriks ekstraseluler yang mendukung pertumbuhan dan interaksi sel kulit.

Gambar: Produk perancah alginat-kitosan dengan dan tanpa pelapisan PRP
Perancah tersebut dibuat dari kombinasi biomaterial alami alginat dan kitosan, serta diperkaya dengan platelet rich plasma (PRP) yang mengandung berbagai faktor pertumbuhan penting untuk regenerasi jaringan. Kombinasi ini menghasilkan struktur berpori yang stabil, biokompatibel, dan mendukung perkembangan sel kulit secara optimal.
Dalam wawancara terkait pengembangan inovasi ini, Retno Wahyu Nurhayati menjelaskan, “Perancah alginat–kitosan kami rancang tidak hanya sebagai struktur penyangga sel, tetapi juga sebagai lingkungan biologis yang mendekati kondisi kulit manusia. Dengan penambahan platelet rich plasma, perancah ini mampu menyediakan faktor pertumbuhan yang penting untuk meningkatkan proliferasi dan diferensiasi sel, sehingga proses pembentukan jaringan kulit dapat berlangsung lebih optimal,” ungkapnya.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada integrasi PRP yang mampu meningkatkan proliferasi, migrasi, dan diferensiasi sel kulit, sekaligus mendukung pembentukan matriks ekstraseluler secara lebih efektif. Selain sebagai terapi regeneratif, inovasi ini juga berpotensi dimanfaatkan sebagai model kulit buatan untuk penelitian biomedis, pengujian obat, kosmetik, hingga riset kanker.
Chairul Hudaya, Ph.D., Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, menegaskan bahwa inovasi ini sejalan dengan visi UI dalam mendorong riset berdampak. “Pengembangan perancah alginat–kitosan sebagai kulit artifisial menunjukkan kekuatan riset interdisipliner Universitas Indonesia. Inovasi ini memiliki nilai strategis, baik untuk pengembangan terapi regeneratif maupun sebagai platform riset dan pengujian di bidang biomedis dan bioteknologi,” ujarnya.
Dengan dukungan riset biomaterial dan rekayasa jaringan yang terus berkembang, inovasi kulit artifisial berbasis alginat–kitosan ini diharapkan dapat menjadi solusi masa depan dalam pengobatan luka dan pengembangan teknologi biomedis di Indonesia.
Artikel Sebelumnya
Kapsul Herbal Sambiloto UI Berpotensi Lindungi Jantung Pasie...Artikel Selanjutnya
SWM, Teknologi Pemetaan Laut Dangkal Berbasis Satelit Karya...