Peneliti FKG UI Kembangkan Konjac Glukomanann sebagai Antibakteri Pencegah Periodontitis
Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) berhasil mengembangkan Komposisi Konjac Glukomanann (KGM) sebagai antibakteri pencegah periodontitis. Inovasi ini menjadi terobosan baru dalam upaya pencegahan penyakit gusi melalui pemanfaatan bahan alami yang aman dan ramah lingkungan.
Periodontitis merupakan peradangan serius pada jaringan pendukung gigi yang dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar hingga kehilangan gigi permanen. Selama ini, terapi periodontitis masih banyak bergantung pada antibiotik sintetis yang berisiko menimbulkan resistensi bakteri dan efek samping jika digunakan dalam jangka panjang.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti FKG UI meneliti potensi Konjac Glukomanann, polisakarida alami yang diekstraksi dari tanaman Amorphophallus konjac, sebagai agen antibakteri alami untuk kesehatan gigi dan gusi.
Inventor utama penelitian, drg. Benso Sulijaya, Sp.Perio(K)., Ph.D., menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari kebutuhan akan terapi periodontitis yang lebih aman dan berkelanjutan.
“Selama ini, terapi periodontitis masih banyak mengandalkan antibiotik kimia yang dapat menyebabkan resistensi. Kami ingin menghadirkan pendekatan baru berbasis bahan alam yang efektif dan lebih aman,” ungkapnya.

Gambar: Konjac Glukomanann sebagai Antibakteri Pencegah Periodontitis
Dalam uji laboratorium (in-vitro), Konjac Glukomanann terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis, bakteri utama penyebab periodontitis. Selain itu, pengujian in-vivo pada hewan coba menunjukkan bahwa KGM juga mampu membantu mencegah kerusakan tulang alveolar akibat infeksi periodontitis.
Menurut drg. Benso, hasil penelitian ini membuka peluang pengembangan produk kesehatan gigi berbasis bahan alami.
“Konjac Glukomanann tidak hanya menekan pertumbuhan bakteri penyebab periodontitis, tetapi juga melindungi jaringan tulang alveolar dari kerusakan. Ke depan, bahan ini berpotensi dikembangkan menjadi obat kumur, gel periodontal, atau pasta gigi terapeutik berbahan dasar alami,” jelasnya.
Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, Chairul Hudaya, Ph.D., turut mengapresiasi inovasi tersebut.
“Konjac Glukomanann menunjukkan bagaimana riset berbasis bahan alam dapat memberikan solusi nyata bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Melalui inovasi ini, Universitas Indonesia mempertegas komitmennya dalam mengembangkan riset kesehatan berbasis bahan alam yang inovatif, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Artikel Sebelumnya
Low-Cost Mini Patient Health Monitor, Inovasi Alat Pemantau...Artikel Selanjutnya
Jokeen Energy Hadirkan Smart Renewable Energy Wind Turbines...