Integrasikan Budaya Lokal, Peneliti Hadirkan Inovasi Uroflowmetri Posisi Jongkok
Artikel Inovasi
M. Iqram (Mu'Iq)

Integrasikan Budaya Lokal, Peneliti Hadirkan Inovasi Uroflowmetri Posisi Jongkok

Meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang nyaman dan sesuai dengan karakteristik mayarakat mendorong lahirnya berbagai inovasi teknologi medis berbasis kearifan lokal. Salah satu inovasi tersebut hadir melalui pengembangan alat uroflowmetri berbasis posisi jongkok, sebuah modifikasi perangkat pemeriksaan saluran kemih yang dirancang agar lebih selaras dengan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam berkemih.

Uroflowmetri merupakan metode pemeriksaan non-invasif untuk mengevaluasi gangguan saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengukur laju aliran urine dalam satuan ml/detik sesuai standar International Continence Society (ICS). Namun, sebagian besar alat uroflowmetri konvensional dirancang untuk posisi duduk atau berdiri yang umum digunakan di negara Barat, sehingga kurang sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih terbiasa menggunakan posisi jongkok saat berkemih.

Gambar: Inovasi Uroflowmteri jongkok

Melihat kondisi tersebut, tim peneliti mengembangkan inovasi berupa modifikasi alat uroflowmetri melalui penambahan sistem mounting yang memungkinkan pasien menjalani pemeriksaan dalam posisi jongkok. Inovasi ini bertujuan meningkatkan kenyamanan pasien sekaligus membantu menghasilkan pemeriksaan yang lebih optimal karena dilakukan dalam posisi yang lebih natural.

Pengembangan alat dilakukan melalui tahapan studi literatur, perancangan desain menggunakan perangkat lunak CAD, pemilihan material, hingga pembuatan prototipe menggunakan teknologi 3D printing. Prototipe kemudian diuji secara fungsional pada subjek sehat maupun pasien dengan gejala LUTS untuk mengevaluasi performa dan efektivitas alat.

Sejalan dengan itu, Chairul Hudaya, Ph.D. menyampaikan bahwa “pengembangan uroflowmetri berbasis jongkok ini mencerminkan pentingnya integrasi antara inovasi teknologi dan kearifan lokal. Penyesuaian desain alat dengan kebiasaan masyarakat, diharapkan mampu meningkatkan kualitas pemeriksaan sekaligus pengalaman pasien. Kami berharap inovasi ini dapat segera masuk tahap hilirisasi untuk diproduksi secara massal, dan diadopsi secara luas oleh fasilitas kesehatan di Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pelayanan kesehatan yang inklusif dan berbasis kebutuhan masyarakat.”

Ke depannya, inovasi ini diharapkan dapat diproduksi secara massal dan diimplementasikan di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia. Selain meningkatkan kenyamanan pasien, pengembangan ini juga menjadi langkah nyata dalam menghadirkan teknologi kesehatan yang lebih inklusif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.