FISIP UI Hadirkan Inovasi Perlindungan Anak Berbasis Sensitivitas Budaya di Wilayah 3T
Tim peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menghadirkan inovasi riset bertajuk Cultural Sensitivity-Based Child Protection: Inovasi Strategis untuk Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak Melalui Pendidikan Berbasis Keluarga dan Sekolah. Inovasi ini dirancnag sebagai strategi pencegahan kekerasan seksual terhadap anak melalui pendekatan pendidikan yang memperhatikan nilai dan karakter budaya lokal, terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Gambar 1 : Penyerahan Panduan bagi guru dan orang tua, serta Media Pendukung Edukasi yang dirancang sesuai dengan karakter sosial dan budaya masyarakat daerah 3T.
Dipimpin oleh Emir Chairullah, Ph.D., bersama tim multidisiplin FISIP UI, riset ini menekankan bahwa upaya perlindungan anak tidak dapat diterapkan secara seragam tanpa memahami konteks sosial masyarakat setempat. Pendekatan sensitif budaya dinilai menjadi kunci agar pesan edukasi dapat diterima masyarakat tanpa menimbulkan resistensi atau benturan dengan norma yang berlaku.
Untuk mendukung implementasi tersebut, tim mengembangkan perangkat edukasi perlindungan diri yang disusun secara kontekstual. Perangkat ini meliputi Seri Buku Bacaan Bermutu untuk anak, Modul Panduan bagi guru dan orang tua, serta Media Pendukung Edukasi yang dirancang sesuai dengan karakter sosial budaya masyarakat di wilayah 3T. Program ini menyasar tiga elemen utama dalam ekosistem pendidikan anak, yakni anak, guru, dan orang tua.

Gambar 2: Seri Buku Bacaan, Modul panduan, dan Media Pendukung Edukasi
Pelaksanaan program juga disertai pendampingan kepada guru, orang tua, dan perwakilan pemerintah daerah guna memperkuat kapasitas pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah maupun keluarga. Berdasarkan temuan lapangan, masih banyak guru dan pemangku kepentingan di daerah 3T yang memiliki keterbatasan pengetahuan dan belum memahami mekanisme penanganan kasus kekerasan seksual pada anak secara memadai. Temuan ini memperlihatkan pentingnya peningkatan literasi dan pelatihan terkait isu perlindungan anak.
Tidak hanya menghasilkan perangkat edukatif, inovasi ini juga memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas lokal melalui pendekatan partisipatif. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dongeng interaktif “Berani, Tidak, Lari, Lapor!” yang dikemas secara komunikatif dan relevan dengan budaya anak-anak setempat sebagai media edukasi pencegahan kekerasan.
Managing Director riset, Emir Chairullah, Ph.D., menegaskan pentingnya keberlanjutan program agar dapat diperluas ke wilayah 3T lainnya. Program ini diharapkan mampu menjadi model nasional pendidikan perlindungan anak yang berakar pada budaya lokal, sekaligus memastikan setiap anak Indonesia memiliki hak yang sama untuk tumbuh dengan aman, terlindungi, dan berdaya.
Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI, Chairul Hudaya, Ph. D., turut mengapresiasi riset tersebut sebagai bukti nyata bahwa penelitian sosial mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya di wilayah 3T. Menurutnya, Universitas Indonesia berkomitmen mendukung pengembangan riset berbasis kebutuhan lokal agar dapat menghasilkan solusi yang relevan dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Melalui inovasi Cultural Sensitivity-Based Child Protection, tim FISIP UI berharap dapat menghadirkan model nasional pendidikan perlindungan anak yang berakar pada budaya lokal namun tetap sejalan dengan nilai universal hak anak. Program ini juga diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah 3T di Indonesia sehingga semakin banyak anak memperoleh hak yang sama untuk tumbuh dengan aman, terlindungi, dan berdaya.
Artikel Sebelumnya
Monitra, Solusi Monitoring Cerdas Infrastruktur Telekomunika...Artikel Selanjutnya
KibiCare, Inovasi Startup UI Perkuat Ekosistem Edukasi dan L...